Segala suka dan duka sekarang aku lalui di sebuah desa yang jauh berada di ceruk pedalaman Riau. Pilihan tinggal di desa ini disebabkan oleh karena aku memang asli terlahir dari rahim bunda di desa itu. Ada satu kata yang tak bisa aku lupakan ketika berada di desa itu, yaitu "CINTA". Cinta karena pusara ibunda yang sangat "kusayangi, kucintai, kuhormati dan kutakuti" berada di desa itu, separuh jiwaku telah dibawanya ke dalam pusaranya itu. Cinta karena dikelilingku ada orang-orang yang kucintai, terutama isteriku. Dan cinta karena aku memang mencintai desa itu, dengan diiringi tekad bahwa aku akan berbuat sekedar kemampuan untuk memajukan desa itu hanya sekadar untuk membuktikan cintaku padanya.
Setiap orang pasti mempunyai ceritanya masing-masing terhadap negeri tempat ia lahir. Namun lain halnya dengan aku, memoriku tentang desa itu bukan cerita-cerita masa lalu, kenangan-kenangan diwaktu kecil dulu atau kenakalan-kenakalan yang pernah diperbuat, tetapi lebih dari itu adalah masa yang akan datang, masa 10 tahun, 15 tahun, 25 tahun atau 30 tahun yang akan datang. Keyakinanku yaitu kalaulah tidak ada kita berbuat untuk memajukan desa, memberikan stimulasi kepada sesama warga desa untuk maju dan lain-lain, maka kita akan tergilas dan dilindas oleh kemajuan zaman dan kita orang desa tetaplah orang desa yang tak akan ditulis oleh zaman sebagai bagiannya.
Siapapun kita hendaknya mempunyai semangat dengan tangan terkepal untuk dapat berbuat untuk desa, dimanapun desa itu tersadai di atas peta dunia.
Minggu, 06 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
Cita-cita Rindra Febrian sungguh mulia. Saya jadi terharu. Saya jadi ingin bersilaturahmi ke desa Rindra (kalau dibolehkan dan kalau ada cukup bekal perjalanan).
Posting Komentar